Timur Tengah Memanas, PHRI Bali Ketir-ketir Pariwisata Anjlok
Bali, Kabar1news.com — Meski Timur Tengah bukan penyumbang wisatawan terbesar ke Bali, PHRI Bali menilai Konflik di timur tengah atau middle east disebut berpotensi akan mempengaruhi siklus pariwisata di Bali seperti yang pernah terjadi ketika Perang Teluk.
Hal tersebut disampaikan Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI), Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya saat dihubung melalui sambungan telepon, Senin (2/3/2026).
“Jika ini berkepanjangan tentu akan berdampak buruk bagi perkembangan pariwisata kita kedepan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejumlah maskapai asal Timur Tengah seperti Emirates dan Qatar Airways telah melayani penerbangan langsung (direct flight) menuju Bali, sehingga semakin mempermudah akses wisatawan dari kawasan tersebut.
Selain itu, Rai Suryawijaya mengatakan kondisi saat ini sama seperti ketika terjadi perang Teluk di Timur Tengah. Saat itu, katanya, masyarakat banyak menunda bepergian, termasuk ke Bali akibat ancaman keamanan.
“Dulu kita pernah mengalami (seperti ini) pada saat Perang Teluk. Bali berhenti total, karena orang takur bepergian ya karena ancaman keamanan,” terangnya.
Lebih lanjut, Rai Suryawijaya mengatakan ekosistem pariwisata membutuhkan keamanan, kenyamanan, dan kebersihan.
“Keamanan itu nomor satu. Kalau situasi global tidak aman, maka mereka akan takut bepergian,” terangnya.
Seperti diketahui Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran sejak Sabtu (28/02/2026). Serangan tersebut menimbulkan ketengan di Timur Tengah.
Akibatnya, Beberapa negara di kawasan Timur Tengah menutup atau membatasi ruang udaranya, termasuk Iran, Irak, Israel, Qatar, dan Uni Emirat Arab, sehingga ribuan penerbangan dibatalkan atau ditunda. (**)




















