Rektor UPMI Bali Minta Pemerintah Bijak Ambil Keputusan Soal Guru Honorer
Bali, Kabar1news.com – Penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi swasta di Bali disebut mengalami penurunan sangat tinggi. Hal tersebut, lantaran masyarakat Bali khususnya anak muda lebih memilih kerja di kapal pesiar dan luar negeri dibanding masuk perguruan tinggi.
Hal ini diungkapkan, Rektor Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, I Made Suarta, di Denpasar pada, Senin (1/6/26). “Karen masyarakat Bali itu sukanya kerja di kapal pesiar. Jadi, mereka lebih memilih program vokasi atau pragmatis,” ujarnya.
I Made Suarta, yang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta di Bali ini mengatakan, penurunan minat itu juga telah dirasakan oleh kampus IKIP PGRI Mahadewa Indonesia sejak covid 19 bahkan sampai sekarang. “Kalau kami sama juga menurunnya semenjak ada covid 19, penurunannya dari 50-70%,” katanya.
Ia menuturkan, fenomena ini bukan tidak mungkin akan berdampak pada krisis tenaga pengajar atau guru di Bali. Disisi lain, rencana pemerintah soal pembatasan guru honorer di 2026 ini juga akan semakin memperparah situasi.
“Kalau boleh saya katakan, di setiap sekolah saat ini sudah terjadi krisis guru. Bahkan di sekolah sekolah saat ini rata rata guru-guru honorer, yang rencananya akan dipangkas oleh pemerintah pada 2026 ini,” tandasnya.
Karena itu, pihaknya mendorong kampus sewasta untuk fokus pada kualitas agar minat masyarakat Bali masuk perguruan tinggi itu tetap tinggi. “Dalam rapat kami bersepakat, untuk fokus pada kulitas mahasiswa, karena pemerintah bukan dilihat dari seberapa banyak mahasiswanya, tetap kualitasnya bagaimana,” tandasnya.
Disisi lain, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta di Bali ini, juga berharap pemerintah agar kebijakan pemangkasan guru honorer betul-betul dipikirkan, karena hal tersebut menyangkut hak setiap warga negara kesatuan Republik Indonesia.
“Jadi, saya berharap pemerintah lebih bijak dalam memutuskan kebijakan,” tutupnya.(*)




















