I Made Romi Gelar Pameran Tunggal di The Shantrian Gallery Sanur
Bali, Kabar1news.com — Dalam diskursus seni rupa secara umum, identitas artistik kerap dipahami sebagai sesuatu yang harus stabil, dan dapat dipetakan secara periodik. Selain itu, seorang seniman dianggap “matang” ketika gaya visualnya menetap dan dapat dikenali secara konsisten dan liniearitasnya.
Cara pandang ini tidaklah keliru dan memudahkan pembacaan dan melakukan klasifikasi terhadap proses kreatif seniman, namun di sisi lain cara pandang semacam ini sering kali menyederhanakan proses kreatif seorang seniman yang sejatinya bersifat dinamis, tidak linier, dan penuh ketidakpastian.
Hal tersebut, diungkapkan Perupa, I Made Romi Sukadana saat menggelar pameran tunggal di The Shantrian Gallery Sanur, yang dibuka secara resmi pada Jumat (9/1/2026). Dengan tema,” DIVERGENT MIND”, dan akan berlangsung 9 Januari sampai dengan 28 Februari 2026.
“Pameran Divergent Mind justru ingin melakukan pembacaan yang sedikit berbeda atas keyakinan umum tentang “identitas” seniman sebagai gaya yang ajeg dan stabil, pameran ini justru hendak membaca dan menempatkan persoalan identitas dan proses kreatif seniman dalam konstelasi alam pikir seniman yang spesifik dan otonom, yang berada dalam gejolak pikir yang diwarnai perubahan, lompatan, dan pergeseran sebagai nilai utama praktik artistik,” ujar I Made Susanta Dwitanaya.
Selin itu, ia mengatakan dalam psikologi kreativitas, konsep divergent thinking merujuk pada kemampuan mental untuk menghasilkan banyak
kemungkinan jawaban, berpindah pendekatan, serta menolak satu solusi tunggal sebagai kebenaran final. Istilah ini diperkenalkan oleh J. P. Guilford dalam pidato presidensialnya di American Psychological Association tahun 1950, sebagai kritik terhadap dominasi convergent thinking yang menekankan jawaban benar–salah dan efisiensi logis. Guilford merumuskan empat karakter utama berpikir divergen yakni : fluency (kelimpahan ide), flexibility (kelenturan berpindah kategori dan pendekatan), originality (keunikan gagasan), dan elaboration (kemampuan mengembangkan ide secara detail dan berlapis).
“Dalam konteks seni rupa, berpikir divergen tidak semata hadir sebagai strategi intelektual, melainkan sebagai pengalaman
tubuh dan kesadaran. Mihaly Csikszentmihalyi menyebut kondisi ini sebagai flow, yaitu keadaan ketika individu sepenuhnya larut dalam aktivitas kreatif, dan bertindak berdasarkan intuisi yang terlatih. Pada titik ini, proses kreatif tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh rencana rasional, melainkan oleh dialog spontan antara pengalaman, intuisi, dan medium
(lukisan) itu sendiri,” kata I Made Susanta Dwitanaya.
Kecenderungan tematik dan visual yang berubah-ubah dalam karya Made Romi akan sering disalahpahami sebagai ketiadaan
identitas. Namun pembacaan dan pemaknaan semacam ini berangkat dari asumsi bahwa identitas harus selalu berwujud dalam satu rupa visual tertentu atau setidaknya dapat dirunut dalam periodeisasi yang jelas. Stuart Hall menawarkan pemahaman lain tentang identitas sebagai sesuatu yang tidak tetap, melainkan terus “menjadi” melalui proses representasi.
“Dalam pandangan Hall ini, identitas bukanlah esensi yang selesai, tetapi konstruksi yang senantiasa bergerak dan dinegosiasikan. Dengan demikian, penolakan Made Romi terhadap identitas tunggal justru dapat dibaca sebagai sikap kritis terhadap pemahaman identitas yang membeku. Identitas artistiknya tidak berhenti pada gaya, atau tema tertentu, tetapi hadir sebagai pencarian yang terus bergulir selama proses melukis itu sendiri. Melukis menjadi medan uji, ruang berpikir, dan arena eksperimentasi yang terbuka, sebuah praktik reflektif yang terus berlangsung,” tutur I Made Susanta Dwitanaya.
Proses kreatif yang secara utuh yang kemudian mengalir secara perlahannya dan itu bisa dari penuh kemudian oleh pelaku seni itu sendiri dari sana. Kemudian saya melihat korelasi teori itu kemudian sangat terkait dan berhubungan dengan apa yang perlu dilakukan menjadi suatu karya seni yang ide-idenya selalu mengalir bahkan ketika proses wawancara saya mewawancarai Rommy dianggap bahwa itu adalah sebuah karakteristik Rommy di dalam berkesenian, bahkan, itu terjadi saat proses melukis itu dan berlangsung pada setiap saat. Jadi hal ini juga menjadi sebuah momentum untuk kita melihat dan mempersoalkan kembali apa itu sebenarnya identitas di dalam berkarya.
Apakah identitas sesuatu yang ajeg, sesuatu yang stabil sesuatu yang terhenti pada satu titik tertentu. Atau karakteristik visual estetika maupun artistik atau kita bisa kembali lagi melihat satu teori yang dirumuskan oleh portal bagaimana ketika kita berbicara dalam persoalan ini, kita sesungguhnya sedang perlu bergerak dalam proses menjadi identitas, sesuatu yang terus menerus akan terus bergerak dalam mencari flow yang mengalir seiring dengan gagasan-gagasan yang bergerak, dimana tadi bisa kita simak bersama bagaimana otoritas atau otonomi sebagai seorang pelaku seni itu menyadari sepenuhnya proses kreatifnya yang terus bergerak di antara satu kanvas ke kanvas lainnya,” imbuhnya. (*/D)





















