Bali, Kabar1News.com – Universitas Dwijendra Denpasar mengadakan seminar Internasional “Multi Disciplines Approaches For Sustainable Development di Aula Universitas Dwijendra Denpasar pada, Jumat (16/12/2022).
Seminar Internasional yang bekerja sama dengan Universitas Narotama Surabaya, Universitas Pakuan, Perhimpunan Ekonomi Pertanian (PERHEPI), HKTI, Perkumpulan Ahli dan Dosen Republik Indonesia (ADRI) ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan-rumusan kebijakan dan program pembangunan ke depan.
Ketua Yayasan Universitas Dwijendra, Dr. I Ketut Wirawan, S.H,M.Hum mengatakan, seminar Internasional hari ini adalah rangkaian HUT Universitas Dwijendra, dan tema yang diangkat adalah berkaitan dengan perkembangan ekonomi secara global ke depan.
“Ini adalah rangkaian HUT yayasan Universitas Dwijendra dengan mengadakan seminar Internasional tentang perkembangan ekonomi secara global ke depan dengan menceritakan bagaimana kiat-kiat dari masing-masing negara menghadapinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Dewasa ini pembangunan yang diselenggarakan oleh berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia, yang sesuai dengan agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (the 2030 Agenda for Sustainable Development atau SDGs). Suatu kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan yang bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan, yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan, untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.
Karena itu, SDGs ini diberlakukan dengan prinsipprinsip universal, integrasi dan inklusif. Di Indonesia penyelenggaraan pembangunan berkelanjutan mencakup empat pilar, yaitu pilar pembangunan sosial, pilar pembangunan ekonomi, pilar pembangunan lingkungan, dan pilar pembangunan hukum dan tata Kelola.
Tentu pertemuan G20 yang baru saja diselenggarakan di Bali telah menghasilkan berbagai kesepakatan yang di antaranya adalah pembangunan sosial ekonomi dan lingkungan di berbagai negara, diharapkan memberikan harapan yang besar untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Terkait tantangan yang dihadapi petani ke depan, menurut prof. Bustanul Arifin yang juga ketua umum *PERHEPI* mengatakan, perubahan iklim menjadi tantangan besar untuk para petani ke depan, karena itu diperlukan pendampingan yang sangat serius agar tetap bertahan.
“Harus ada banyak pendampingan saya katakan, kan perubahan iklim sudah di depan mata itu, bukan cerita hayal lagi, itu sudah fakta betul, jadi petani perlu resiliensi agar tangguh dalam konteks, pertama dia lebih cari benih yang adaptif terhadap perubahan iklim,” katanya.
Selain itu, di samping benih sangat mudah didapatkan oleh petani tentu harus ada pendampingan yang sangat intens jangan beri PR kepada petani sehingga hasilnya pun bisa mencapai maksimal.
“Beni adaptif sangat mudah diperoleh, kalau ada petugas penyuluh kasih benih harus didampingi secara baik terhadap petani dan jangan dikasih PR kepada petani,” tambahnya.
Ia menuturkan, di Bali sistem sosialnya sudah cukup baik, namun meskipun demikian harus tetap perlu didampingi secara terus menerus.
“Di Bali kan sistem sosialnya sudah cukup bagus, namun tetap perlu didampingi,” katanya.
Ia pun menyarankan agar penyuluh yang melakukan pengabdian kepada masyarakat baik dari Dinas maupun Universitas supaya utamakan pendampingan terhadap petani jagan dilepas.
“Petani itu sangat simple, lihat dulu baru percaya, jadi inilah yang diterjemahkan oleh teman-teman dinas maupun teman-teman Universitas yang melakukan pengabdian kepada masyarakat,” tutupnya. (**Dion)





















