KNPI dan NYC Indonesia Serukan Dialog, Kutuk Serangan AS ke Caracas
Jakarta, Kabar1News.com – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) yang juga Presiden NYC Indonesia, Tantan Taufiq Lubis sebagai Chairperson Gerakan Pemuda Non Blok, Indonesia atau Non Aligned Movement Youth Organization (NAMYO) menerima kabar dari Ketua Pemuda Non Blok Venezuela Saudara Juan Pablo Tumbajoy. Minggu, (4/01/2026).
“Amerika sudah melakukan Agresi Militer ke kota Caracas,” kabarnya.
Lanjut dia, Hlhari ini adalah hari yang menyakitkan bagi Amerika Latin dan gerakan pemuda yang pro perdamaian. Beber dia, beberapa jam yang lalu, Presiden Donald Trump memerintahkan tindakan militer yang dilaporkan sebagai pemboman di Caracas, Venezuela.
“Peristiwa ini tidak hanya mengguncang venezuela, namun juga dunia. Hal ini menjadi keprihatinan mendalam bagi komunitas internasional,” tegas Juan Pablo.
Ketua Umum KNPI Tantan Taufiq Lubis merespons dan mengatakan, dari sudut pandang politik dan diplomatik, dirinya menganggap tindakan ini telah melanggar prinsip-prinsip hukum Humaniter Internasional, Melanggar komitmen yang ditetapkan dalam Piagam Universal Hak Asasi Manusia (HAM), melemahkan kerangka perdamaian regional yang didukung oleh PBB. Menunjukkan bagaimana penurunan hegemoni berubah menjadi kekuatan untuk mempertahankan pengaruh.
“Kami DPP KNPI beserta NYC Indonesia mengusulkan agar berbagai organisasi pemuda internasional di dunia, sebagai bagian dari jaringan pemuda global, agar melakukan gerakan dengan menyerukan suaranya untuk membela kehidupan sipil, menegaskan kembali kedaulatan, dan menjunjung perdamaian sebagai prinsip politik yang tidak dapat dinegosiasikan. Ini bukan pesan yang menentang suatu negara, tapi pesan untuk kemanusiaan, martabat, dan perdamaian dunia,” seru Tantan.
Tantan menegaskan, solidaritas pemuda indonesia untuk rakyat dan pemuda venezuela serta dukungannya kepada kepemimpinan bolivarian yang bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional dan kedaulatan negara. “Kami juga mendesak semua pihak agar menyelesaikan semua konflik dengan jalur dialog dan mediasi,” tandas Wakil Rektor Universitas Jakarta ini.
Tindakan Militer AS melakukan upaya pergantian pemerintahan di Venezuela tanpa jalur demokrasi, maupun ke negara-negara lain di Amerika Latin, serta digantikan oleh tokoh pro AS sudah menjadi pola kebijakan penguasa di Amerika.
“Seperti kasus Presiden Panama Noriega (1988) yang diadili oleh AS dengan alasan narkoba atau pencucian uang,” katanya.
Ia meyakini, tindakan ini jelas-jelas melanggar hukum internasional (prinsip kedaulatan negara dan prinsip non intervention).
Menurut Tantan, segala bentuk agresi dan penjajahan atas bangsa lainnya adalah tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan. Ia menyatakan, bangsa Indonesia menentang kolonialisme dan akan terus turut serta dalam menciptakan perdamaian dunia. “Konstitusi Indonesia menegaskan hal tersebut, begitu juga spirit dalam Dasa Sila Bandung 1955 mengamanahkan demikian,” pungkasnya. (*/Red)





















