Kemendugbangga/BKKBN: Dampak Bonus Demografi Terhadap Pertumbuhan Tenaga Kerja dalam Menyongsong Indonesia Emas
Surabaya, Kabar1News.com – Kemendugbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur Menggelar diskusi bersama awak media dengan tajuk “Analisis Tenaga Kerja dalam Menyongsong Bonus Demografi” yang bertempat di Sambang Cafe, Jl. Ketabang Kali no.53 Surabaya pada Jumat (20/6/2025).
Dihadiri oleh Kaper Dra. Maria Ernawati, M.M., Sekretaris Perwakilan Ghana Renaldi Pasca Surya, S.H., M.Ak. Narsum Ketua IPADI Jatim, Ahmad Sjafi’i, SE.,ME Moderator, Taufik Daryanto, S.Psi., M.Sc Humas, Iwan Yulianto, S.Pd., M.Si. bersama puluhan awak media.
Indonesia saat ini berada di ambang peluang besar yang disebut bonus demografi, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) jauh lebih besar dibandingkan usia non-produktif. Puncaknya diprediksi terjadi pada rentang tahun 2030–2040.
Fenomena ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi namun juga menjadi tantangan serius jika tidak diantisipasi dengan tepat terutama dalam aspek ketenagakerjaan.
Jika dikelola dengan tepat, momentum ini dapat menuju kemajuan bangsa. Namun, tanpa strategi pembangunan yang menyeluruh bonus ini justru bisa berubah menjadi beban serta hambatan demografi.
Dalam sambutannya Keper Dra. Maria Ernawati, M.M. menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sedang memasuki fase bonus demografi yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif (15 tahun– 64 tahun) jauh lebih besar dibandingkan usia non-produktif. Puncaknya diprediksi terjadi pada rentang tahun 2030–2040 menuju Indonesia emas.
Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, angka Total Fertility Rate (TFR) Jawa Timur sudah 1,97. Artinya, rata-rata perempuan hanya melahirkan dua anak, dan itu sudah cukup,” ujar Maria, dalam siaran persnya
“Sejak 2020 Jawa Timur mengalami penurunan pertumbuhan penduduk berdasarkan sensus penduduk angka Total Fertility Rate 1,97% sehingga dalam sebuah keluarga produktif perempuan melahirkan cukup dua anak saja. Maka sekarang kita masuk dalam fase bonus demografi yang sangat menguntungkan untuk pembangunan bangsa”, tuturnya.
“Namanya bonus tidak selalu menjadi hal yang positif Namun, tanpa persiapan strategi pembangunan yang menyeluruh dan inklusif, bonus ini justru bisa berubah menjadi beban demografi dan hambatan bagi pembangunan”, sambung Maria.
Dampak dari bonus demografi demografi di Indonesia khususnya di Jawa Timur terhadap analisa tenaga kerja telah menghadapi momen sangat krusial dalam sejarah demografinya.
“Kita analogikan, bahwa rumah kita sekarang lebih besar sehingga tugas dan tanggungjawab kita juga lebih besar. Fokus kita sekarang hanya dua yaitu kependudukan dan pembangunan keluarga,” tuturnya.
Berdasarkan data Pusat statistik BPS hingga tahun 2024 lebih dari 70% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif namun tingginya jumlah angkatan kerja belum sebanding belum sepenuhnya diiringi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja masih terdapat ketimpangan antar keterampilan yang dimiliki mencari kerja dengan kebutuhan dunia industri yang memperlihatkan adanya kesenjangan antara sistem pendidikan dan realitas pasar kerja
Dengan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, pendidikan, dan masyarakat sipil, Indonesia dapat mengubah bonus demografi menjadi keuntungan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Bonus ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal investasi pada manusia. Karena pada akhirnya, kualitas sumber daya manusia adalah fondasi dari pembangunan bangsa yang tangguh dan berdaya saing.
Bonus demografi adalah peluang sekali seumur hidup bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Namun, keberhasilan memanfaatkannya sangat bergantung pada kesiapan tenaga kerja sebagai motor utama pembangunan. Tanpa perencanaan dan investasi sumber daya manusia yang serius, potensi ini justru akan berubah menjadi ancaman sosial dan ekonomi.(Pambayun)





















