Rabu, Januari 14, 2026
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • KOMUNITAS
  • RAGAM
    • KRIMINAL
    • PERISTIWA
    • PENDIDIKAN
    • OPINI
    • LIFESTYLE
    • OLAH RAGA
    • PROFIL USAHA & BISNIS
    • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • HANKAM
  • HUKUM
  • LIPSUS
  • POLITIK
  • WISATA
  • SEPUTAR DESA
  • AGRO SEKTOR
No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • KOMUNITAS
  • RAGAM
    • KRIMINAL
    • PERISTIWA
    • PENDIDIKAN
    • OPINI
    • LIFESTYLE
    • OLAH RAGA
    • PROFIL USAHA & BISNIS
    • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • HANKAM
  • HUKUM
  • LIPSUS
  • POLITIK
  • WISATA
  • SEPUTAR DESA
  • AGRO SEKTOR
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Beranda » Cerita Rakyat Jawa Barat, Ciung Wanara dan Raja Galuh

Cerita Rakyat Jawa Barat, Ciung Wanara dan Raja Galuh

by jurnalis
6 November 2022
in ORGANISASI, Sejarah Budaya
Cerita Rakyat Jawa Barat, Ciung Wanara dan Raja Galuh

Kabar1news.com – Dewan Pimpinan Pusat Peduli Nusantara Tunggal jakarta berpendapat bahwa, Sejarah Jawa Barat tidak bisa lepas dari eksistensi Kerajaan Galuh di Ciamis. Salah satu kerajaan termasyur dan disegani pada masanya dalam cerita rakyat Sunda ini memiliki daerah penaklukan yang cukup luas.

Wilayah kekuasaannya mencakup dari ujung kulon Jawa Barat sampai ujung timur Pulau Jawa, yakni Sungai Berantas di dekat Surabaya.

Salah satu situs jejak peninggalan Kerajaan Galuh masih bisa dilihat hingga sekarang, yakni Situs Karang Kamulyan yang berlokasi di Desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Situs ini berada di antara hutan lindung seluas 25,5 hektare yang dipercayai menyimpan jejak peninggalan Kerajaan Galuh.

Situs Karang Kamulyan berada di antara perbatasan antara Ciamis dan Banjar. Sekarang situs itu bukan hanya milik Kabupaten Ciamis, tetapi juga milik nasional karena sudah termasuk Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi pemerintah.

Di kompleks situs itu ada jejak peninggalan sejarah Kerajaan Galuh lengkap dengan benda-benda bersejarah lainnya. Perjalanan Kerajaan Galuh tidak bisa dilepaskan dari cerita perjuangan Ciung Wanara yang begitu melegenda.

Kisahnya menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda di Pulau Jawa yang tinggal di bagian barat dan Jawa Tengah.

Melegendanya nama Ciung Wanara, pahlawan nasional Indonesia dari Bali I Gusti Ngurah Rai menamai pasukannya dengan nama Ciung Wanara dalam pertempuran Puputan Margarana melawan kolonial Belanda.
sejarah, legenda Ciung Wanara diawali saat Kerajaan Galuh diperintah Raja Prabu Permana Di Kusumah. Kemudian dia mempercayakan kerajaannya kepada Menteri Aria Kebonan yang dikenal dengan nama Prabu Barma Wijaya.

Dikisahkan di kerajaan itu tinggal dua istri raja yang bernama Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum. Kemudian kedua istri raja itu hamil bersamaan.

Dewi Pangrenyep melahirkan lebih dahulu anak laki-laki yang diberi nama Hariang Banga.

Sementara Dewi Naganingrum yang masih mengandung diketahui janinnya berjenis kelamin laki-laki dianggap sebagai ancaman bagi tahta Prabu Barma Wijaya dan estafet penerus kerajaan selanjutnya.

Alhasil Prabu Barma Wijaya bersama Dewi Pangrenyep menyusun strategi jahat untuk menyingkirkan bayi laki-laki yang dikandung Dewi Naganingrum.

Tiba saatnya waktu kelahiran, bayi laki-laki tampan yang dilahirkan Dewi Naganingrum ditukarkan dengan seekor anjing.

Sementara bayi laki-laki yang dikemudian hari menjelma sebagai Ciung Wanara itu dibuang ke Sungai Citanduy.

Tidak cukup sampai di situ, Prabu Barma Wijaya bersama Dewi Pangrenyep kemudian berusaha untuk menyingkirkan Dewi Naganingrum dari istana.

Kemudian disuruhlah Uwa Batara Lengser untuk membunuh Dewi Naganingrum.

Perintah itu dilaksanakan dengan membawa sang ratu ke hutan, namun eksekusi tidak dilakukan karena Uwa Batara Lengser mengetahui jika Dewi Naganingrum tidak bersalah dan telah menjadi korban fitnah.

Di sisi lain, bayi Dewi Naganingrum yang dihanyutkan ke Sungai Citanduy dalam keranjang berhasil ditemukan warga di sekitar bantaran Desa Geger Sunten dan dirawat hingga dewasa.

Menjelma menjadi anak yang gagah dan kuat, pemuda itu kemudian diberi nama Ciung Wanara.

Dia kemudian mengetahui orang tuanya bukan berasal dari desa tempatnya dirawat dan tumbuh dewasa.

Ciung wanara kemudian mencoba menelusuri asal usul orang tuanya dengan mendatangi Kerajaan Galuh.

Dia ditemani oleh seekor ayam jantan yang kuat karena telurnya dierami unggas yang disebut Nagawiru.

Bukan tanpa alasan Ciung Wanara membayar ayam jantan karena sabung ayam menjadi salah satu olahraga hiburan yang digemari di Kerajaan Galuh.

Raja Prabu Barma Wijaya termasuk menggemari hiburan sabung ayam dan memiliki ayam jago aduan yang hebat dan tak pernah kalah saat bertarung bernama Si Jeling.

Dia selalu menyampaikan jika ada ayam dari rakyatnya atau siapa pun yang bisa mengalahkan ayam jago andalannya, akan diberikan apa saja yang diminta.

Ciung Wanara yang mendengar kabar tersebut kemudian menerima tantangan sang raja dengan mengadukan ayam jantan miliknya dengan Si Jeling.

Syaratnya ketika ayamnya menang, maka meminta setengah dari Kerajaan Galuh sebagai hadiah.

Janji itu terwujud karena ayam sang raja dikalahkan ayam milik Ciung Wanara yang meski berukuran kecil namun jauh lebih kuat.

Ciung Wanara kemudian menjadi raja di daerah yang diserahkan Prabu Barma Wijaya.
Saat itu dia pun mendengar cerita Uwa Batara Lengser. Dia saat itu disingkirkan dari istana beserta ibunya oleh Prabu Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep.

Merasa sakit hati kemudian dia melancarkan balas dendam kepada keduanya dan berhasil memenjarakan Dewi Pangrenyep.

Namun, putra dari Dewi Pangrenyep, Hariang Banga tidak terima atas penangkapan ibunya oleh Ciung Wanara yang notabenenya sang adik.

Dia kemudian menyusun rencana penyerangan untuk membebaskan ibunya dengan mengumpulkan banyak tentara guna berperang melawan Ciung Wanara dan para pengikutnya sehingga pertarungan kakak adik antara Hariang Banga dan Ciung Wanara tidak terelakan.
Olah kanuragan dan kesaktian seimbang yang dimiliki keduanya membuat pertarungan tidak ada yang menang.

Kemudian munculah Raja Prabu Permana Di Kusumah yang tak lain ayah keduanya didampingi Ratu Dewi Naganingrum yang meminta agar pertarungan dihentikan.

Raja mengatakan, pamali (tabu) antara adik dan kakak bertarung.

Lalu keduanya berhenti dan Raja Prabu Permana Di Kusumah memutuskan Ciung Wanara memerintah di Galuh sedangkan di negara baru sebelah timur Sungai Brebes atau menjadi Sungai Pamali.

Sejak itu, nama sungai tersebut dikenal sebagai Cipamali (Bahasa Sunda) atau Kali Pemali (Bahasa Jawa) yang berarti Sungai Pamali.

Hariang Banga lalu pindah ke timur dan dikenal sebagai Jaka Susuruh.

Dia mendirikan kerajaan Jawa dan pengikutnya yang setia menjadi nenek moyang orang Jawa. Sementara Ciung Wanara memerintah Kerajaan Galuh dengan adil, rakyatnya orang sunda.

Pada saat itu Kerajaan Galuh yang kemudian bernama Pakuan Pajajaran menjadi makmur seperti saat diperintah pada zaman Prabu Permana Di Kusumah.

Jejak peninggalan Kerajaan Galuh di Situs Karang Kamulyan di Desa Karang Kamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, masih bisa terlihat.

Seperti Batu Pangcakilan bekas singgasana dan tempat bermusyawarah raja, penyabungan alam, sanghyang bedil, lambang peribadatan, sumber air cteguh dan cirahayu. Kemudian ada Makam Adipati Panaekan, Pamangkonan, batu panyadaan, patimunan, serta leuwi sipatahunan tempat bayi ciung wanara di buang di Sungai Citanduy. (***)

Pembahasan oleh Ketua DPP Peduli Nusantara Tunggal : Arthur Noija, SH. (***Dikutip dari berbagai sumber literatur sejarah).

Tags: Cerita RakyatCiung WanaraDewan pimpinan Pusat Peduli Nusantara Tunggal

Related Posts

PJI Rokan Hulu Dikukuhkan, Pemda Harap Pers Tetap Kritis dan Profesional
ORGANISASI

PJI Rokan Hulu Dikukuhkan, Pemda Harap Pers Tetap Kritis dan Profesional

14 Januari 2026
HPN 2026, PWI Jatim Gelar Lomba Jurnalistik Tulis dan Foto
EVENT

HPN 2026, PWI Jatim Gelar Lomba Jurnalistik Tulis dan Foto

14 Januari 2026
Beras Terapan Organik Bela Negara, Wujud dari Pertanian Ramah Lingkungan
AGRO SEKTOR

Beras Terapan Organik Bela Negara, Wujud dari Pertanian Ramah Lingkungan

30 Desember 2025
Bupati Wahono Dukung Perjuangan IPHI Bojonegoro Jaga Nilai Kemabruran Haji
ORGANISASI

Bupati Wahono Dukung Perjuangan IPHI Bojonegoro Jaga Nilai Kemabruran Haji

26 Desember 2025
PJI Bojonegoro Gathering ke Pacet, Evaluasi Kinerja dan Silaturahmi
ORGANISASI

PJI Bojonegoro Gathering ke Pacet, Evaluasi Kinerja dan Silaturahmi

21 Desember 2025
Penerus Ajaran Samin Bojonegoro Terima AKI 2025 Kategori Masyarakat Adat
Prestasi

Penerus Ajaran Samin Bojonegoro Terima AKI 2025 Kategori Masyarakat Adat

19 Desember 2025
Diklat Insan Pers Bela Negara, Pers Adalah Garda Terdepan Informasi Kebangsaan
Bela Negara

Diklat Insan Pers Bela Negara, Pers Adalah Garda Terdepan Informasi Kebangsaan

17 Desember 2025
TP PKK Bojonegoro Rakerda, Cantika Wahono Ajak Kader Terus Berinovasi
ORGANISASI

TP PKK Bojonegoro Rakerda, Cantika Wahono Ajak Kader Terus Berinovasi

13 Desember 2025
PJI Bojonegoro Agendakan Rapat Akhir Tahun dan Gathering di Pacet
ORGANISASI

PJI Bojonegoro Agendakan Rapat Akhir Tahun dan Gathering di Pacet

13 Desember 2025
Load More

Unduh di Playstore :

Nation Day :

Spesial Corner :

Pasang Iklan :

Info Terkini :

Kolom Ucapan :

Kabar1News.TV : (Klik)

Kategori Berita Lainnya :

UMKM Bela Negara : (Klik)

Bela Negara :

Berita Terkini Seputar Lamongan

  • Redaksi
  • Pedoman media siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Info Lainnya

© 2021 Kabar1news Berita Terkini Nusantara

No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • KOMUNITAS
  • RAGAM
    • KRIMINAL
    • PERISTIWA
    • PENDIDIKAN
    • OPINI
    • LIFESTYLE
    • OLAH RAGA
    • PROFIL USAHA & BISNIS
    • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • HANKAM
  • HUKUM
  • LIPSUS
  • POLITIK
  • WISATA
  • SEPUTAR DESA
  • AGRO SEKTOR

© 2021 Kabar1news Berita Terkini Nusantara

Don`t copy text!
Situs Kami menggunakan cookie. Kunjungi Kebijakan Cookie Klik "Terima" untuk melanjutkan.