Kediri, kabar1news.com – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana mendorong toko pusat oleh-oleh di Kabupaten Kediri memaksimalkan gerai dengan ragam produk lokal. Selain mendorong bangkitnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dengan menjual produk lokal sekaligus dapat mengenalkan potensi daerah kepada wisatawan.
Himbauan disampaikan bupati muda yang akrab disapa Mas Dhito itu saat melakukan kunjungan di kawasan wisata lereng Gunung Kelud, Kecamatan Ngancar, pertengahan April 2022. Saat berada di Kampung Nanas dan berbelanja di toko oleh-oleh, justeru produk olahan nanas yang dipajang di gerai sangat minim.
“Sangat diperlukan sekali produk-produk UMKM Kabupaten Kediri khususnya, tadi saya melihat dari sekian banyak produk yang masih belum banyak diversifikasi produknya adalah produk nanasnya sendiri,” kata Mas Dhito.
Dari sekian banyak produk makanan yang dijual bahkan ada yang dari luar kabupaten, varian produk nanas tidak lebih dari separonya. Tentu sangat disayangkan apalagi lereng Gunung Kelud di Kecamatan Ngancar merupakan sentra pertanian nanas.
“Tadi saya lihat dari sepuluh sampai lima belas produk itu, nanas baru dua sampai tiga. Nah ini mungkin perlu dikembangkan lagi ini tugasnya Dinas Kopusmik bersama-sama dengan warga sekitar, tentunya dengan BUMDes,” tuturnya.
Mas Dhito menyarankan supaya pusat oleh-oleh itu dan juga toko oleh-oleh lain terutama di jalur kawasan objek wisata lereng Gunung Kelud, untuk lebih menyediakan varian produk olahan nanas. Secara umum, untuk pusat oleh-oleh yang tersebar di Kabupaten Kediri diharapkan lebih memasarkan produk UMKM Kabupaten Kediri.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Kopusmik) Kabupaten Kediri Mamiek Amiyati mengungkapkan, pihaknya melakukan kegiatan pelatihan untuk diversifikasi produk olahan bagi pelaku UMKM. Adapun produk olahan nanas yang telah diversifikasi cukup banyak seperti pai nanas, selai, sambal nanas, sirup, nata de pina, moktail, kletik nanas, nastar.
“Kalau kripiknya masih kurang bagus juga lempok nanas, sehingga masih perlu diadakan pelatihan lagi,” ungkapnya.
Mamiek menyampaikan, pihaknya masih terus melakukan penguatan kualitas produk olahan nanas itu. Sebab, tak dipungkiri selama ini tidak ada standart untuk kualitas produknya sehingga rasa terkadang masih tidak konsisten.
“Dan kita (juga) persiapkan yang kwalitas premium,” ucapnya.
Kemudian, untuk membantu supaya produk UMKM bisa masuk ke pasaran seperti pusat oleh-oleh, lanjut Mamiek, pihaknya mengaku telah menyampaikan ke delapan kelompok paguban UMKM supaya produk dari anggota paguyuban dukurasi terlebih dahulu.
Adapun, di Klinik Koperasi UMKM yang ada di Dinas Kopusmik, menurut Mamiek, ada layanan kurasi gratis setiap hari Senin. Hasil kurasi akan diketahui layak tidaknya produk UMKM untuk dipasarkan.
Bilamana hasil kurasi itu masih ada kekurangan, lanjut dia, akan ditindaklanjuti dengan pelatihan dan pendampingan. Sedang, untuk pusat oleh-oleh menurut Mamiek, sejauh ini sudah bisa terima produk UMKM, pun begitu dengan syarat produk layak untuk dipasarkan.
“Dan Kopusmikpun sudah koordinasi dengan toko modern (seperti) alfamart untuk memasukkan produk UMKM tapi dengan syarat harus kurasi dulu,” pungkasnya. (*Cp)





















