Rabu, Januari 14, 2026
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • KOMUNITAS
  • RAGAM
    • KRIMINAL
    • PERISTIWA
    • PENDIDIKAN
    • OPINI
    • LIFESTYLE
    • OLAH RAGA
    • PROFIL USAHA & BISNIS
    • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • HANKAM
  • HUKUM
  • LIPSUS
  • POLITIK
  • WISATA
  • SEPUTAR DESA
  • AGRO SEKTOR
No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • KOMUNITAS
  • RAGAM
    • KRIMINAL
    • PERISTIWA
    • PENDIDIKAN
    • OPINI
    • LIFESTYLE
    • OLAH RAGA
    • PROFIL USAHA & BISNIS
    • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • HANKAM
  • HUKUM
  • LIPSUS
  • POLITIK
  • WISATA
  • SEPUTAR DESA
  • AGRO SEKTOR
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Beranda » 80 Tahun Indonesia Merdeka: Refleksi, Capaian dan Harapan

80 Tahun Indonesia Merdeka: Refleksi, Capaian dan Harapan

by jurnalis
18 Agustus 2025
in Kajian
80 Tahun Indonesia Merdeka: Refleksi, Capaian dan Harapan

Gambar Ilustrasi. [Foto.Istimewa/google]

80 Tahun Indonesia Merdeka: Refleksi, Capaian dan Harapan

 

Jakarta, Kabar1News.com – Dewan Pimpinan Pusat Peduli Nusantara Tunggal, Jakarta, yang konsen dalam bidang kebijakan publik, menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 80 tahun lalu, tepat pada 17 Agustus 1945, merupakan buah dari perjuangan panjang bangsa. Kemerdekaan tidak lahir begitu saja, melainkan dari tetesan darah, air mata, serta tekad kolektif rakyat Indonesia untuk merdeka dari penjajahan.

Lahirnya Bangsa Indonesia

Sejarah perjalanan bangsa kita dipenuhi dengan catatan pahit penjajahan. Dimulai dari Portugis yang datang membawa semangat 3G (Gold, Glory, Gospel), disusul Belanda dengan politik tanam paksa dan kolonialisme panjang, hingga Jepang yang masuk dengan propaganda “Saudara Tua” namun meninggalkan luka mendalam. Semua itu membentuk kesadaran baru: bangsa ini tak boleh selamanya menjadi objek penindasan.

Perjuangan Panjang dan Semangat Persatuan

Meski berbeda suku, agama, dan bahasa, rakyat Indonesia mampu bersatu. Dari perlawanan bersenjata di daerah-seperti Perang Diponegoro, Perang Aceh, dan perlawanan Pattimura-hingga perjuangan diplomasi para perintis kemerdekaan di meja perundingan, semuanya adalah rangkaian mozaik perjuangan yang menuju satu tujuan: kemerdekaan.

Inilah nilai luhur yang perlu kita rawat. Semangat persatuan di tengah perbedaan adalah modal terbesar bangsa Indonesia, baik di masa perjuangan dulu, maupun dalam menghadapi tantangan global hari ini.

Peristiwa Rengasdengklok: Momentum Penentuan
Salah satu momen penting menuju proklamasi adalah Peristiwa Rengasdengklok. Di sanalah golongan muda-dengan keberanian dan idealismenya-mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Tarik menarik antara “golongan tua” yang lebih hati-hati dan “golongan muda” yang mendesak percepatan justru menunjukkan dinamika sehat: bahwa kemerdekaan lahir dari dialektika lintas generasi.

80 Tahun Indonesia Merdeka: Dari Proklamasi ke Refleksi Bangsa

Jakarta, 17 Agustus 1945. Di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan. Kalimat singkat namun penuh makna itu menggetarkan hati seluruh rakyat Indonesia: bangsa yang selama berabad-abad dijajah akhirnya menyatakan dirinya merdeka. Sejak saat itu, lahirlah Indonesia sebagai negara berdaulat.

Delapan Dekade Kemerdekaan di 2025 ini menandai 80 tahun Indonesia merdeka. Delapan dekade perjalanan bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang itu, bangsa ini melewati banyak dinamika: dari pahitnya penjajahan menuju kedaulatan, dari krisis politik dan ekonomi menuju pertumbuhan, dari konflik sosial menuju rekonsiliasi. Indonesia telah membuktikan diri mampu bertahan sebagai bangsa besar dengan semangat persatuan yang diwariskan para pendiri negara.

Pencapaian dan Tantangan

Tidak bisa dipungkiri, banyak capaian yang patut kita syukuri. Indonesia kini diakui dunia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar, memiliki ekonomi yang tumbuh stabil, serta kaya akan keragaman budaya dan sumber daya alam.

Namun, perjalanan ini belum sempurna. Kita masih dihadapkan pada tantangan besar: ketimpangan sosial yang menganga, korupsi yang menggerogoti kepercayaan publik, kualitas pendidikan yang belum merata, hingga persoalan lingkungan hidup yang mendesak. Semua ini adalah pekerjaan rumah bersama agar cita-cita kemerdekaan tidak berhenti sebatas teks proklamasi.

Pesan Proklamasi: Lebih dari Sekadar Bebas dari Penjajahan

Proklamasi bukan hanya momen simbolis untuk menandai lepasnya bangsa dari penjajah. Ia adalah panggilan sejarah agar kita terus membangun negeri yang adil, makmur, dan berdaulat. Kemerdekaan sejati baru bisa dirasakan jika setiap warga negara memperoleh haknya secara setara, serta mampu berkontribusi pada pembangunan bangsa.

Generasi Muda dan Masa Depan Bangsa

Dipundak generasi mudalah harapan itu digantungkan. Mereka bukan hanya pewaris kemerdekaan, tetapi juga penggerak perubahan. Dengan kreativitas, inovasi, dan semangat nasionalisme, generasi muda diharapkan dapat menjawab tantangan zaman-mulai dari revolusi digital, kompetisi global, hingga menjaga persatuan di tengah keberagaman.

Momentum Refleksi dan Komitmen Baru

Delapan puluh tahun kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirayakan dengan pesta rakyat dan perlombaan. Lebih dari itu, ia adalah waktu refleksi: sejauh mana cita-cita para pendiri bangsa sudah kita wujudkan, dan sejauh mana kita berkomitmen untuk melanjutkannya.

Kemerdekaan adalah amanah. Tugas kita kini adalah menjaga dan mengisinya dengan kerja nyata, kejujuran, solidaritas, dan cinta tanah air. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang merdeka, tetapi juga bangsa yang mampu merawat dan menghidupi kemerdekaannya.

Sejarah yang Tak Terlupakan: 80 Tahun Indonesia Merdeka

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah. Ia adalah hasil dari perjuangan panjang, penuh darah dan air mata. Dari Sabang sampai Merauke, rakyat dari berbagai daerah, agama, dan suku bahu-membahu melawan penjajahan selama ratusan tahun. Ada yang mengangkat senjata di medan perang, ada yang berjuang di meja diplomasi. Semua bersatu demi satu cita-cita: Indonesia merdeka.

Puncak dari perjuangan itu lahir pada 17 Agustus 1945, ketika Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan. Peristiwa itu bukan hanya menandai lahirnya negara merdeka, berdaulat, dan berkepribadian, melainkan juga membuka babak baru: perjuangan membangun bangsa.

Karena faktanya, kemerdekaan politik hanyalah pintu awal. Sejak saat itu, pekerjaan rumah bangsa ini justru semakin besar: menegakkan hukum, mencerdaskan rakyat, menyejahterakan kehidupan bersama, dan menghadirkan keadilan sosial.

80 Tahun Kemerdekaan: Pencapaian yang Patut Disyukuri

Delapan dekade bukan waktu yang sebentar. Indonesia telah mencatat berbagai capaian penting yang seharusnya membuat kita optimis.

1. Konsolidasi Demokrasi
Sejak era Reformasi, Indonesia mampu menyelenggarakan pemilu damai, langsung, dan demokratis. Rakyat diberi ruang untuk berpartisipasi dalam menentukan arah bangsa. Meski masih banyak catatan kritis—seperti politik uang, oligarki, dan pragmatisme partai-namun sistem demokrasi kita relatif stabil dan tetap bertahan.

2. Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Infrastruktur tumbuh pesat, sektor digital berkembang, dan ekonomi kreatif semakin menggeliat. Banyak anak muda Indonesia yang melahirkan inovasi di bidang teknologi digital, menjadikan bangsa ini tak lagi hanya pasar, tetapi juga produsen ide dan produk global.

3. Kemajuan Pendidikan dan Teknologi
Akses pendidikan semakin luas, meski kualitas masih timpang antara kota dan desa. Generasi muda kini lebih melek teknologi dan banyak yang menorehkan prestasi di tingkat internasional. Inovasi di bidang kesehatan, energi terbarukan, hingga kecerdasan buatan menjadi bukti bahwa bangsa ini tak kekurangan talenta.

4. Peran Global yang Semakin Diperhitungkan
Indonesia bukan lagi pemain pinggiran. Keanggotaan di G20, kiprah diplomasi internasional, serta peran aktif dalam isu strategis-mulai dari perdamaian dunia, perubahan iklim, hingga kerja sama global-membuktikan bahwa Indonesia punya suara yang diperhitungkan.

Tantangan: Kemerdekaan yang Belum Tuntas

Meski banyak pencapaian, kita juga tak boleh menutup mata pada tantangan besar yang masih membelit bangsa. Ketimpangan sosial masih nyata, korupsi tetap menjadi penyakit kronis, kualitas pendidikan belum merata, dan isu lingkungan semakin mendesak.

Artinya, kita belum sepenuhnya mewujudkan janji proklamasi: menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tantangan yang Masih Harus Diselesaikan: Kemerdekaan Kita Belum Tuntas

Indonesia memang sudah 80 tahun merdeka. Namun, mari jujur pada diri sendiri: apakah kemerdekaan itu benar-benar sudah menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan, dan persatuan bagi seluruh rakyatnya? Ataukah kita hanya berhenti pada euforia simbolik, sementara masalah mendasar bangsa ini masih terus dibiarkan?

Kemerdekaan seharusnya bukan sekadar upacara dan perayaan tahunan. Ia adalah janji sejarah yang harus ditepati. Dan hingga kini, ada sejumlah tantangan besar yang justru menunjukkan bahwa kemerdekaan kita masih jauh dari kata selesai.

1. Ketimpangan Sosial dan Ekonomi: Jurang yang Kian Lebar
Indonesia memang mencatat pertumbuhan ekonomi, tetapi siapa yang paling menikmatinya? Fakta pahitnya: kesenjangan antara desa dan kota, antara si kaya dan si miskin, serta antarwilayah masih sangat terasa.

Kemiskinan struktural membuat banyak keluarga terjebak dalam lingkaran setan: pendidikan rendah, kesehatan buruk, dan akses pekerjaan terbatas. Sementara itu, di kota-kota besar, segelintir elite menikmati privilese tanpa batas.

Apakah ini yang dimaksud dengan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”? Ataukah kita hanya mengganti wajah penjajah dari asing menjadi anak bangsa sendiri yang menguasai segalanya?

2. Korupsi dan Tata Kelola Pemerintahan: Penyakit Kronis Bangsa
Korupsi sudah menjadi kanker yang merusak tubuh republik. Dari level pusat hingga daerah, praktik korupsi seperti tak pernah benar-benar hilang. Alih-alih memperkuat demokrasi, yang terjadi justru lahirnya oligarki politik: segelintir orang berkuasa, menguasai kebijakan, dan memonopoli sumber daya untuk kepentingan sendiri.

Transparansi dan akuntabilitas memang sering digaungkan, tapi realitanya masih sebatas jargon. Pertanyaan kritisnya: bagaimana rakyat bisa percaya pada negara jika pejabatnya terus-menerus memperdagangkan amanah?

3. Kerusakan Lingkungan: Warisan Buruk untuk Generasi Mendatang
Kemerdekaan bukan hanya soal kedaulatan politik, tapi juga soal keberlanjutan hidup. Sayangnya, lingkungan kita justru semakin rusak.

Deforestasi, polusi udara, pencemaran laut, hingga krisis iklim menjadi kenyataan sehari-hari. Banjir, longsor, dan kekeringan makin sering melanda. Ironisnya, kebijakan sering berpihak pada investasi jangka pendek ketimbang menjaga bumi untuk masa depan.

Apakah kita tega mewariskan kemerdekaan tanpa alam yang sehat kepada generasi mendatang? Apa artinya merdeka jika rakyat tak bisa lagi menikmati air bersih, udara segar, atau tanah subur?

4. Radikalisme dan Polarisasi Sosial: Bom Waktu yang Mengancam
Media sosial yang seharusnya menjadi ruang demokrasi justru sering berubah jadi medan pertempuran politik identitas. Polarisasi tajam, ujaran kebencian, dan sikap intoleran menggerogoti fondasi persatuan kita.

Indonesia sejak awal berdiri atas keberagaman. Tetapi kini, perbedaan sering dipelintir menjadi alat politik untuk memecah belah. Jika dibiarkan, radikalisme dan intoleransi bisa menjadi bom waktu yang menghancurkan sendi-sendi kebangsaan.

Harapan Menuju Abad Kedua Kemerdekaan: Jangan Hanya Jadi Bangsa Penonton

Delapan puluh tahun kemerdekaan adalah usia yang matang bagi sebuah bangsa. Namun, kedewasaan itu tidak otomatis membuat kita bebas dari masalah. Justru, momen ini harus dijadikan introspeksi tajam: apakah kita sungguh-sungguh sudah menepati janji proklamasi?

Karena faktanya, kemerdekaan politik yang kita peroleh pada 1945 belum sepenuhnya berubah menjadi kemerdekaan sejati: merdeka dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan keserakahan. Jika tidak ada lompatan besar, kita berisiko hanya menjadi penonton di tengah persaingan global, padahal kita punya potensi luar biasa.

Menuju abad kedua kemerdekaan, ada agenda besar yang tidak boleh hanya jadi wacana, melainkan harus menjadi prioritas nasional.

1. Membangun SDM Unggul: Bonus Demografi atau Bencana Demografi?
Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Namun, angka-angka hanya akan menjadi “berkah” jika disertai investasi besar-besaran dalam pendidikan, kesehatan, dan keterampilan masa depan.

Generasi muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai tenaga kerja murah, melainkan harus dipersiapkan sebagai inovator, pemimpin, dan penggerak perubahan. Jika gagal, bonus demografi bisa berubah jadi bencana: ledakan pengangguran, meningkatnya kriminalitas, dan generasi yang kehilangan arah.

2. Mewujudkan Keadilan Sosial: Merdeka Bukan untuk Segelintir Elite
Apa arti kemerdekaan jika hanya segelintir orang yang merasakan hasil pembangunan? Jurang antara kota dan desa, Jawa dan luar Jawa, si kaya dan si miskin, masih menganga lebar.

Keadilan sosial bukan jargon, tapi amanat konstitusi. Pemerataan pembangunan ke pelosok negeri harus jadi prioritas nyata, bukan sekadar proyek politik lima tahunan. Indonesia merdeka bukan hanya untuk elite politik dan ekonomi, tetapi untuk seluruh rakyat tanpa kecuali.

3. Transisi Energi dan Ekonomi Hijau: Jangan Wariskan Bumi yang Sakit
Bangsa yang besar bukan hanya diukur dari gedung pencakar langit atau jalan tol megah, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga bumi untuk generasi mendatang.

Deforestasi, polusi, dan krisis iklim sudah nyata di depan mata. Jika Indonesia terus mengandalkan energi fosil dan eksploitasi alam tanpa batas, maka yang kita wariskan hanyalah bumi yang sakit.

Indonesia seharusnya berani tampil sebagai pelopor energi terbarukan, menata ulang sistem ekonomi agar ramah lingkungan, serta menjadikan hutan dan laut bukan sebagai komoditas semata, melainkan sebagai warisan suci untuk anak cucu.

4. Memperkuat Demokrasi dan Supremasi Hukum: Jangan Biarkan Demokrasi Jadi Dagangan
Demokrasi bukan hanya kotak suara lima tahun sekali. Demokrasi sejati berarti rakyat berdaulat, hukum ditegakkan, HAM dilindungi, dan korupsi diberantas tanpa pandang bulu.

Sayangnya, demokrasi kita sering hanya berhenti pada prosedur, sementara substansinya digerogoti oleh oligarki, politik uang, dan korupsi yang merajalela. Jika hal ini terus dibiarkan, demokrasi akan kehilangan maknanya, menjadi sekadar dagangan untuk mempertahankan kekuasaan.

Abad kedua kemerdekaan seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan ruh demokrasi: melindungi kepentingan rakyat, bukan segelintir elite.

Merdeka Bukan Sekadar Simbol: Menguji Janji Kemerdekaan yang Hakiki

Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Namun pertanyaan mendasar tetap menggema: apakah kita benar-benar sudah merdeka, atau sekadar merayakan simbolnya setiap tahun?

Merdeka bukan hanya soal bendera merah putih yang dikibarkan, bukan pula hanya tentang upacara di lapangan. Merdeka adalah kebebasan rakyat untuk hidup layak: bebas dari kemiskinan, bebas dari kebodohan, bebas mengutarakan pendapat tanpa rasa takut, dan bebas mewujudkan mimpi tanpa dibatasi struktur yang timpang.

Merdeka yang Belum Tuntas

Kemerdekaan sejati adalah ketika tak ada lagi anak yang kelaparan di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi. Ketika petani tidak lagi ditindas oleh tengkulak dan kebijakan yang abai pada nasib mereka. Ketika nelayan bisa melaut tanpa dihantui biaya tinggi dan eksploitasi asing.

Apakah kondisi itu sudah kita capai? Atau justru kita terjebak pada kemerdekaan semu, di mana rakyat kecil terus berjuang sendirian, sementara segelintir elite menikmati “buah kemerdekaan” dengan rakus?

Simbol vs Realitas

Bendera bisa berkibar gagah, lagu kebangsaan bisa dinyanyikan lantang, tetapi semua itu akan kehilangan makna jika rakyat masih merasa terpinggirkan di tanah airnya sendiri.

Kemerdekaan sejati bukan sekadar nostalgia terhadap heroisme masa lalu, melainkan janji yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanpa itu, perayaan kemerdekaan hanya menjadi panggung simbolis-indah di mata, tetapi hampa di hati.

Momentum 80 Tahun: Menyatu atau Terpecah?

Tahun ke-80 kemerdekaan harus menjadi titik balik. Ini bukan sekadar ulang tahun bangsa, tapi alarm sejarah: apakah kita masih punya semangat persatuan yang diwariskan para pendiri negeri?

Kita dihadapkan pada realitas pahit: polarisasi politik, kesenjangan sosial, korupsi, hingga kerusakan lingkungan. Semua itu menggerogoti tubuh republik. Jika tidak segera diatasi, kita hanya akan masuk abad kedua kemerdekaan sebagai bangsa yang lemah dan mudah dipecah belah.

Maka, semangat kebangsaan harus disatukan kembali. Bukan lewat retorika kosong, tapi lewat kerja nyata, kolaborasi lintas generasi, dan gotong royong yang sejati.

Menjaga Warisan Para Pendiri Bangsa

Kemerdekaan ini adalah warisan berharga. Tetapi warisan itu tidak bisa dijaga hanya dengan seremonial, melainkan dengan belajar, bekerja, dan berjuang bersama.

Belajar, agar bangsa ini tidak mudah diperdaya.
Bekerja, agar rakyat benar-benar sejahtera.
Berjuang, agar cita-cita kemerdekaan tidak dikhianati oleh korupsi, keserakahan, dan ketidakadilan.

Itulah cara kita menjaga amanah Soekarno, Hatta, dan para pejuang lainnya.

Refleksi Tajam: Merdeka untuk Siapa?

Pada akhirnya, kita harus berani bertanya: merdeka ini untuk siapa? Untuk rakyat banyak yang masih berjuang di sawah, di laut, di pabrik, dan di jalanan? Ataukah hanya untuk segelintir elite yang menguasai politik dan ekonomi negeri?

Jika kita jujur, kemerdekaan sejati belumlah sepenuhnya kita raih. Karena itu, tugas kita bukan hanya merayakan, tetapi menggugat, memperbaiki, dan menuntut agar janji proklamasi benar-benar ditepati.

Merdeka bukan sekadar simbol. Merdeka adalah keberanian untuk menghadirkan keadilan sosial, mewujudkan kesejahteraan rakyat, dan menjadikan Indonesia bangsa yang bermartabat.

Penulis: Arthur Noija SH*)

Tags: 80 TahunCapaianHarapanIndonesiaMerdekaNEWSRefleksi

Related Posts

Ada Diskusi Serius Di Balik Nama Masjid Samin Baitul Muttaqin
Kajian

Ada Diskusi Serius Di Balik Nama Masjid Samin Baitul Muttaqin

20 Desember 2025
Kesempatan Emas: Beasiswa Baru dari Pemkab Tuban
Kajian

Kesempatan Emas: Beasiswa Baru dari Pemkab Tuban

25 November 2025
DPP PPNT Sikapi Proses Hukum Pidana dan Kedudukan Keadilan Restoratif di Indonesia
Kajian

DPP PPNT Sikapi Proses Hukum Pidana dan Kedudukan Keadilan Restoratif di Indonesia

20 November 2025
DPP PPNT Sikapi Penyimpangan Pengelolaan Sampah
Kajian

DPP PPNT Sikapi Proses Hukum Pidana

2 November 2025
DPP PPNT Sikapi Penyimpangan Pengelolaan Sampah
Kajian

DPP PPNT Sikapi Penyimpangan Pengelolaan Sampah

2 November 2025
Pengalaman di Tengah Badai Geopolitik: Seruan dari Jordan untuk RUU Perlindungan Pelajar
Kajian

Pengalaman di Tengah Badai Geopolitik: Seruan dari Jordan untuk RUU Perlindungan Pelajar

13 Agustus 2025
PPNT Kaji Permasalahan Pertanahan di Indonesia
Kajian

PPNT Kaji Permasalahan Pertanahan di Indonesia

23 Juni 2025
DPP PPNT: Tumpang Tindihnya Aturan
Kajian

DPP PPNT: Tumpang Tindihnya Aturan

15 Juni 2025
DPP PPNT Bahas Kebijakan Publik Pertanahan, SKMHT – Bagian 1
Kajian

DPP PPNT Bahas Kebijakan Publik Pertanahan, SKMHT – Bagian 2

10 Juni 2025
Load More

Unduh di Playstore :

Nation Day :

Spesial Corner :

Pasang Iklan :

Info Terkini :

Kolom Ucapan :

Kabar1News.TV : (Klik)

Kategori Berita Lainnya :

UMKM Bela Negara : (Klik)

Bela Negara :

Berita Terkini Seputar Lamongan

  • Redaksi
  • Pedoman media siber
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Info Lainnya

© 2021 Kabar1news Berita Terkini Nusantara

No Result
View All Result
  • Home
  • NEWS
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • KOMUNITAS
  • RAGAM
    • KRIMINAL
    • PERISTIWA
    • PENDIDIKAN
    • OPINI
    • LIFESTYLE
    • OLAH RAGA
    • PROFIL USAHA & BISNIS
    • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • HANKAM
  • HUKUM
  • LIPSUS
  • POLITIK
  • WISATA
  • SEPUTAR DESA
  • AGRO SEKTOR

© 2021 Kabar1news Berita Terkini Nusantara

Don`t copy text!
Situs Kami menggunakan cookie. Kunjungi Kebijakan Cookie Klik "Terima" untuk melanjutkan.